Selasa, 17 April 2012

keluargaku (1)


Keluargaku yang sangat sangat dan sangat istimewa dan membuatku untuk berbuat lebih untuk kedua orang tuaku yang menyayangiku dan untuk ketiga kakakku yang tak pernah aku lupakan jasa dan pengorbanannya. Masih teringat ketika aku kecil yang nakal dan sering membuat neng lilik jengkel. Neng lilik adalah mbakku yang sangat rajin atau dalam bahasa jawanya “akas” jika ada hubungannya dengan menyapu, mencuci, dan membersihkan semua yang hubungannya dengan rumah. Waktu itu neng beru selesai nyapu setiap sudut ruangan rumah. Dan aku datang dari dolen diluar tanpa nyuci kaki lansung lari dari pintu samping sampai ke belakang. Hal itu ternyata membuat neng marah dan lansung tanpa basa basi membawakan sapu yang dia pegang dan berlari mengejarku. Karena aku takut sehingga aku lari menghindarinya dengan harapan tidak terkena sabetan sapunya. Lumayan jika terkena sabetannya. Sehingga aku lari dari belakang ke ruang tamu dan muter lagi masuk dari pintu samping terus muter kedepan lagi sampai 3 kali puteran. Mengetahui hal itu ternyata mas rofiq tidak terima, dia mengambil batu besar sambil mengejar neng lilik. Jadi aku dikejar oleh neng lilik dengan sapu ditangannya dan neng lilik  dikejar mas rofiq dengan batu ditangannya. Akhinya aku tertolong oleh malaikat yang bernama ibu, ya sambil menangis aku mendekap ibu yang menyelamatkan aku. Akhirnya pertunjukan itu selesai dengan tangisanku dan neng lilik ikut menangis gara – gara kesal dengan kenakalanku.
Tidak hanya sampai disitu perangku dengan neng lilik berakhir. Hampir setiap malam aku harus berebut televisi dengan neng lilik. Di rumah hanya ada satu teve dan masih belum ada remote waktu itu sehingga harus pencet sana pencet sini. Kesukaan neng lilik pada sinetron tersanjung, tersayang dll bertentangan dengan kesukaanku dengan sinetron keluarga cemara, misteri gunung merapi dll. Jika program teve secara bersamaan main maka harus bertengkar dulu dengan neng lilik. Dan dimana – mana yang namanya adek pasti menang. Biasanya dengan ditandai dengan aksi walkout  dari rumah dan nebeng nonton di rumah tetangga. Tetapi kadang aku yang dikalahkan karena dengan rasionalitas “gantian”. Sehingga aku kadang mau tidak mau tetap melihat program teve yang tidak ku sukai. Hal itulah yang membuat aku khatam sinetron tersanjung 1 sampai 7.
Hal itu terasa berbeda ketika neng memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah perguruan tinggi, dan lebih memilih nganggur dirumah. Dikarenakan tidak produktif akhirnya neng dinikahkan oleh bapak dengan mas paimo. Dan mulai menikah neng tidak pernah lagi berantem denganku lagi. Karena dia tinggal di rumahnya suaminya. Dan sekarang sudah mempunyai 2 anak yang kebetulan cewek semua. Keduanya sangat dekat denganku. Namanya laila dan neni. Waktu mereka kecil baik itu laila maupun neni sangat dekat denganku. Aku adalah orang pertama yang menggantikan posisi neng jika neng sedang sholat atau sibuk. Aku tidak mengerti kenapa hal tersebut terjadi, karena semua keluarga ingin mengendongnya tetapi mereka tidak mau. Neng sangat loman dengan aku, tidak pernah dia menyisihkan uang jajan untukku jika berkunjung kerumah. Dan sampai sekarang aku belum bisa membalas semua kebaikan neng lilik.
Satu hal yang menarik dari neng lilik adalah cita – citanya. Ternyata neng lilik mempunyai cita – cita jadi pedagang. Katanya ibu neng itu sangat suka sekali dengan yang namanya “timbangan”. Dan sekarang neng sudah tercapai cita – citanya punya toko sendiri yang setiap hari mengurusinya.

Minggu, 08 April 2012

Pahala yang hanya bisa diraih oleh wanita

1. Seorang wanita yang saleh lebih baik daripada 70 orang wali atau pria saleh, tetapi seorang wanita yang bobrok akhlaknya lebih buruk daripada seribu pria yang buruk akhlaknya.
2. Seorang istri yang pandai menghibur suaminya yang sedang dalam keadaan gelisah, ia akan mendapatkan pahala separuh dari pahala jihad.
3. Seorang wanita yang sedang hamil, lalu dia menjalankan shalat 2 rakaat maka kebaikan yang diterimanya lebih baik daripada 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil.
4. Seorang wanita yang meninggal dunia dalam rentang waktu 40 hari setelah melahirkan anak, maka ia akan mendapat pahala seperti halnya seorang laki-laki gugur syahid.
5. Jika seorang anak menangis pada malam hari dan ibunya tidak memarahinya, bahkan membujuknya, ibu itu akan mendapat pahala ibadah.
6. Jika pada malam hari seorang wanita tidak dapat tidur karena mengurus anaknya yang sakit, Allah akan memberinya ganjaran sepadan dengan usaha memerdekakan 20 orang budak.
7. Seorang wanita yang bangun pada malam hari untuk menyusui anaknya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan ia akan diberi pahala seperti pahala orang yang mengerjakan ibadah selama 12 tahun.
8. Apabila seorang wanita menyapu rumahnya sambil berdzikir, Allah akan memberikan kepadanya pahala seperti menyapu halaman di sekitar Ka’bah.
9. Seorang istri yang memotivasi suaminya untuk berjuang di jalan Allah, dan ia ikhlas untuk menanggung barangkali penderitaan karena ditinggal suaminya, maka Allah akan memasukkannya ke surga 500 tahun lebih awal sebelum suaminya, dan wanita itu menanti di pintu surga.
10. Seorang wanita yang memerah susu sapi dan diawali dengan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim”, maka Allah akan memberikan keberkahan rezeki bagi penduduk rumah tersebut.
11. Seorang istri yang mengerjakan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga amanah suaminya, maka Allah akan memasukkannya ke surga dari pintu mana saja yang ia sukai.
12. Ketika nanti di surga, semua penghuni surga akan menemui Allah dengan frekuensi tergantung dari kuantitas dan kualitas amalnya di dunia. Tapi, bagi seorang wanita yang memelihara dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya, Allah sendiri yang akan menemuinya. Namun jika wanita itu memandang pria yang bukan mahramnya dengan pandangan yang mengundang syahwat, Allah akan mengutuk wanita itu.

Senin, 02 April 2012

Prinsi-Prinsip BK Kelompok



Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan dan konseling yang akan digunakan sebagai dasar Bimbingan dan konseling kelompok . Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan konseling, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:
  1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan dan konseling kelompok diberikan kepada semua konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan kelompok lebih bersifat preventif dan konseling kelompok bersifat penyembuhan (kuratif); Sehinnga lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
  2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan dan konseling kelompok konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
  3. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan dan konseling kelompok, karena bimbingan dan konseling kelompok dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan daan konseling kelompok sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
  4. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan dan konseling kelompok bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
  5. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling kelompok. Bimbingan dan konseling kelompok diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan dan konseling kelompok mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli serta membantu menyelesaikan permasalahan , yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan dan konseling kelompok memfasilitasi konseli untuk mempertimbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan dan konseling kelompok adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
  6. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling kelompok tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan dan konseling kelompok pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

Rabu, 21 Maret 2012

Skenario Bimbingan Kelompok Teknik Permainan “PUZZLE”


TAHAP PEMBENTUKAN
·         Guru pembimbing mengucapkan salam kepada anggota kelompok
·         Guru pembimbing mengungkapkan tujuan bimbingan kelompok.
·         Guru pembimbing menjelaskan cara dan asas dalam kegiatan bimbingan kelompok.
·         Guru pembimbing memperkenalkan diri dan dilanjutkan oleh anggota kelompok untuk memperkenalkan diri.
·         Permainan untuk pengakraban dalam pengenalan diri :
Guru pembimbing memegang bola(pingpong, kasti, dll), lalu menyebutkan nama dan 2 hal yang disukai berdasarkan initial namamya, missal : YOGA lahir di YOGYAKARTA dan suka makan YOGURT. Lalu, bola dilempar pada anggota kelompok dan anggota kelompok yang mendapatkan bola harus memperkenalkan diri dengan cara yang sama sampai semua anggota mendapatkan gilirannya.

TAHAP PERALIHAN
·         Guru pembimbing menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh selanjutnya.
·         Membahas suasana yang terjadi.
·         Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota kelompok untuk ikut berpartisipasi secara aktif di dalam pelaksanaan kegiatan.

TAHAP KEGIATAN
·         Guru pembimbing memberikan kesempatan pada anggota untuk mengemukakan masalah atau topik yang akan dibahas.
·         Menetapkan masalah atau topik yang dibahas dalam pelaksanaan kegiatan. (membahas tentang permasalahan siswa yang menuntut adanya kerjasama dalam menyelesaikan suatu kewajiban atau tugas).
·         Membahas topik yang telah ditentukan.
·         Guru pembimbing mempersiapkan permainan yang akan dilakukan untuk pemahaman anggota terhadap topik yang dibahas dengan permainan “batu pijakan”.
Bahan yang digunakan dalam permainan :
Puzzle
Jumlah peserta :
Bebas
Peraturan permainan/cara bermain :
Peserta menyusun kembali puzzle yang telah di acak.
Manfaat Permainan :
a.       Meningkatkan intelegensi (daya ingat)
b.      Melatih kerjasama atau kekompakan
c.       Melatih komunikasi

TAHAP PENGAKHIRAN
·         Guru pembimbing menayakan kesan atau manfaat setelah mengikuti bimbingan kelompok kepada tiap anggota.
·         Guru pembimbing memberikan kesimpulan mengenai pelaksanaan bimbingan kelompok yang telah dilakukan.

Kamis, 20 Oktober 2011

curhatan bunda

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu.

Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu.

Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu.
Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah,
“Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.
anakku,,,… ibu sangat merindukanmu…

Selasa, 18 Oktober 2011

Oyon d'Oc: strategi konseling modeling simbolik

Oyon d'Oc: strategi konseling modeling simbolik: BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pembentukan watak dan pribadi sese...

strategi konseling modeling simbolik


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pembentukan watak dan pribadi seseorang, termasuk bagaimana seseorang akan berperilaku adalah media. Berkaitan dengan adanya media, sangat diperlukan perhatian khusus (indera) untuk bisa memunculkan efek dari media itu sendiri, terlebih lagi dalam hal menghasilkan perilaku baru. Hal ini sejalan dengan pendapat Gredler 1994, yang menyatakan bahwa perilaku yang baru tidak bisa diperoleh kecuali jika perilaku tersebut diperhatikan dan dipersepsi secara cermat.
Berawal dari pernyataan dan kenyataan tersebut di atas, kami akan menyusun sebuah makalah yang secara khusus akan membahas tentang strategi modeling simbolis, termasuk di dalamnya juga akan termuat beberapa penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan peran media dalam perubahan perilaku seseorang. Dalam hal ini adalah perilaku-perilaku maladaptive yang dimiliki oleh klien.

`
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari strategi modeling?
2.      Apa saja macam-macam dari modeling itu?
3.      Apa yang dimaksud dengan modeling simbolis?
4.      Apa pengaruh media terhadap perubahan perilaku seseorang?
5.      Bagaimana langkah-langkah dalam modeling simbolis?


C.    TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian dari strategi modeling.
2.      Mengetahui macam-macam strategi modeling.
3.      Mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan modeling simbolis.
4.      Mengetahui pengaruh media terhadap perubahan perilaku seseorang.
5.      Mengetahui dan memahami langkah-langkah dalam modeling simbolis.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Strategi Modeling
Menurut Bandura (1986), strategi modeling adalah suatu strategi dalam konseling yang menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan. Menurut Nelson (1995), strategi modeling merupakan strategi pengubahan perilaku melalui pengamatan perilaku model. Pery dan Furukawa (dalam Cormier, 1985) mendevinisikan modeling sebagai proses belajar observasi, dimana perilaku individu atau kelompok, para model, bertindak sebagai suatu perangsang gagassan, sikap, atau perilaku pada orang lain yang mengobservasi penampilan model.
Pengaruh dari peniruan terhaddap model menurut bandura (dalam Gunarsa, 2001) ada 3 hal, yaitu:
1.      Pengambilan respon atau ketrampilan baru dan memperlihatkan dalam perilakunya setelah memadukan apa yang diperoleh dari pengamatannya dengan pola perilaku yang baru.
2.      Hilangnya respon takut setelah melihat model melakukan sesuatu yang oleh si pengamat menimbulkan perasaan takut, namun pada tokoh yang dilihatnya tidak berakibat apa-apa atau akibatnya bahkan positif.
3.      Pengambilan sesuatu respon dari respon-respon yang diperlihatkan oleh tokoh yang memberi jalan untuk ditiru.

B.     Macam-macam Modeling
Macam-macam modeling menurut Corey (1999):
1.      Model yang nyata (live model),
Yaitu yang menjadi model adalah orang-orang yang nyata (misal: konselor, guru, anggota keluarga atau tokoh lain yang ia kagumi).
2.      Model simbolik (symbolic model)
Model adalah tokoh yang dilihat melalui film, video, atau media lain.
3.      Model ganda (multiple model)
Model ini hanya bisa diterapkan dalam situasi kelompok, dimana seorang anggota dari suatu kelompok mengubah dan mempelajari sikap baru setelah ia mengamati bagaimana orang lain dalam kelompoknya bersikap.

C.    Modeling Simbolis
Dalam modeling simbolis, model disajikan melalui bahan-bahan tertulis, audio, video, film atau slide. Modeling simbolis dapat disusun untuk klien secara individu, juga dapat distandardisasikan untuk kelompok klien. Unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam mengembangkan startegi modeling simbolis:
1.      Karakteristik klien (pengguna model)
Dalam mengembangkan strategi modeling simbolis, hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah karakteristik klien atau orang-orang yang akan menggunakan model. Misalnya dalam hal usia, jenis kelamin dan kebiasaan. Contoh: reeder dan kunce (dalam Cormier, 1985) menggunakan pasien-pasien lama sebagai model simbolis untuk mengatasi kecanduan narkoba.
2.      Perilaku tujuan yang akan dimodelkan
Setelah memahami karakteristik klien, hal kedua yang harus dipertimbangkan dan ditetapkan konselor adalah perilaku yang akan dimodelkan. Untuk mengetahui apakah suatu model atau serangkaian model tersebut bisa dikembangkan, konselor harus menyusun 3 pertanyaan yaitu:
a.       Perilaku-perilaku apa yang akan dimodelkan?
b.      Apakah perilaku atau aktivitas itu harus terbagi dalam urutan kemampuan dariyang kurang komplek ke yang kompleks?
c.       Bagaimana seharusnya kemampuan itu di atur?
Contoh: Gresman & Nagle (1980) menggunakan anak perempuan berusia 9 tahun dan anak laki-laki berusia 10 tahun sebagai model video tape yang memperhatikan kemampuan social seperti partisipasi, kerjasama, komunikasi, persahabatan, memulai dan menerima secara positif interaksi dengan teman sebaya.

3.      Media
Media merupakan sarana yang dapat digunakan untuk menampilkan suatu model. Media ini dapat berupa media tulis seperti buku dan komik, serta media audio video. Pemilihan media ini bergantung pada tempat, dengan siapa dan bagaimana model itu akan digunakan.
4.      Isi tampilan atau presentasi
Terdapat 5 hal yang harus termuat dalam naskah yang menggambarkan isi tampilan atau presentasi modeling, yaitu:
a.       Instruksi
Instruksi merupakan hal yang memuat penjelasan singkat, yang akan membantu klien untuk mengenali prosedur pelaksanaan beserta komponen-komponen dari strategi yang akan digunakan. Instruksi juga dapat menggambarkan tipe dan model yang akan diperankan, misalnya konselor memberi tahu bahwa “orang yang akan Anda lihat atau dengar serupa dengan dirimu”.
b.      Modeling
Modeling merupakan bagian yang menyajikan pola-pola perilaku secara terencana dan berurutan, yang di dalamnya memuat gambaran tentang perilaku atau aktivitas yang dimodelkan serta dialog-dialog modelnya.
c.       Praktik
Pengaruh modeling dimungkinkan menjadi lebih besar jika penampilan model tersebut diikuti dengan kesempatan untuk praktik. Dalam modeling simbolis kesempatan bagi klien untuk mempraktikkan apa yang telah mereka baca, dengar atau lihat pada peragaan model harus ada.
d.      Umpan balik
Setelah klien mempraktekkan dalam waktu yang cukup memadai, maka umpan balik perlu diberikan. Klien harus dilatih untuk mengulangi modeling dan mempraktikkan perilaku yang dirasakan masih sulit.

e.       Ringkasan
Hal yang memuat tentang ringkasan dari apa yang dimodelkan dan apa pentingnya klien untuk memperoleh perilaku-perilaku tersebut.

5.      Uji Coba
Uji coba merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan model simbolis yang telah disusun. Uji coba ini dapat dilakukan pada teman sejawat atau kelompok sasaran. Beberapa hal yang harus diuji cobakan meliputi penggunaan bahasa, urutan perilaku, model, waktu praktek dan umpan balik.

D.    PENGARUH MEDIA PADA PERUBAHAN PERILAKU
Seiring dengan perkembangan teknologi, unsur informasi dan komunikasi telah berhasil digabungkan dan dikembangkan. Efeknya adalah media menjadi satu dari sekian model interaksi sosial masyarakat modern. Sebagai salah satu dari bentuk media, film berfungsi mewujudkan komunikasi yang mencakup berbagai fase dalam kegiatan kehidupan. Media ini merupakan landasan pembentukan pengertian dengan tujuan mempengaruhi penerima pesan untuk bertindak sesuai dengan tujuan dari komunikasi tersebut.
Berkaitan dengan perkembangan psikologis seseorang, telah kita ketahui bahwa watak merupakan resultante dari kebaikan dan ketidak-baikan seseorang yang dibawa sejak lahir karena pengaruh lingkungan. Pada usia muda, perilaku dan keinginan anak sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh keberadaan seorang idola, yang dimungkinkan akan selalu ia contoh tanpa mempertimbangkan apakah hal itu baik atau tidak. Hal ini sangat relevan, karena dalam pertumbuhan seorang anak, setiap tindakannya terkait dengan kecenderungan dan kemauan serta kehidupan emosional yang bersentuhan dengan faktor eksogen (lingkungan) yang sifatnya amat kompleks dan bervariasi. Salah satu faktor eksogen yang sangat berpengaruh pada pembentukan watak dan kepribadian seseorang adalah media yang berbentuk bacaan atau film.

E.     LANGKAH-LANGKAH MODELING SIMBOLIS.
Ada 5 langkah dalam modeling simbolis, yaitu:
1.      Rasionel
Pada tahap ini konselor memberikan penjelasan atau uraian singkat tentang tujuan, prosedur dan komponen-komponen strategi yang akan digunakan dalam proses konseling.
2.      Memberi Contoh
Pada tahap ini konselor memberikan contoh kepada klien berupa model yang disajikan dalam bentuk video atau media lainnya, dimana perilaku model yang akan diperlihatkan telah disetting untuk ditiru oleh klien.
3.      Praktek/ Latihan
Pada tahap ini, klien akan diminta untuk mempraktikkan setelah ia memahami perilaku model yang telah disaksikan. Biasanya praktik atau latihan ini mengikuti suatu urutan yang telah disusun. Dalam hal ini, konselor dapat menggunakan 3 kriteria yang diajukan oleh Lazarus untuk menentukan keberhasilan latihan, yaitu:
1.      Klien mampu melakukan respon tanpa perasaan cemas.
2.      Sikap/ perilaku klien secara umum mendukung kata-katanya.
3.      Kata-kata atau tindakan klien tampak wajar dan masuk akal.
4.      Pekerjaan Rumah
Pada tahap ini konselor memberikan pekerjaan rumah kepada klien yang berisi tentang 6 komponen yaitu: apa yang akan dikerjakan oleh klien, kapan perilaku itu harus dilakukan, dimana tingkah laku tersebut dilakukan, bagaimana mencatat tingkah laku tersebut dan membawa hasil pekerjaan rumah ke pertemuaan selanjutnya.
5.      Evaluasi
Pada tahap ini konselor bersama dengan konseli mengevaluasi apa saja yang telah dilakukan, serta kemajuan apa saja yang telah dirasakan klien selama proses konseling. Selain itu, konselor juga harus  memberikan motivasi untuk terus mencoba dan mempraktikkan apa yang telah klien dapat.



Narasi Proses Konseling:

            Konseling dilaksanakan setelah siswa pulang sekolah. Konseling diawali dengan salam pembuka oleh konselor, dilanjutkan dengan doa bersama untuk kelancaran kegiatan konseling. Konselor mengucapkan terima kasih atas kehadiran siswa. Kemudian konselor memberikan rangkuman tentang kegiatan yang telah dilaksankan pada pertemuan sebelumnya.
            Konselor selanjutnya menjelaskan tentang maksud, tujuan dan langkah-langkah dari strategi modeling simbolis. Strategi modeling simbolis adalah strategi dalam Bimbingan dan Konseling, dimana siswa melakukan pengamatan terhadap model untuk kemudian meniru serta mempraktikkan perilaku model yang ia lihat melalui video, film, atau slide. Tujuannya adalah untuk merubah perilaku yang kurang tepat. Pada pertemuan kali ini model akan disajikan melalui video.
            Konselor memberikan instruksi atau petunjuk sebagai berikut: “video yang akan kalian lihat bercerita tentang bagaimana cara menumbuhkan ketrampilan berbicara”. Setelah memberikan instruksi, siswa diminta untuk melihat, memperhatikan dan mencermati perilaku model dari awal hingga akhir. Kemudian, konselor meminta masing-masing siswa untuk memberikan tanggapan dan pendapat dari model yang mereka lihat di video melalui kegitan diskusi kecil.
            Setelah terjadi proses diskusi, siswa akan mencoba mempraktikan langkah-langkah untuk menumbuhkan keterampilan berbicara dikelas seperti yang ada dalam video. Konselor akan kembali memulainya dengan memberikan instruksi atau petunjuk apa yang harus dilakukan siswa. Kemudian siswa mempraktikkan satu per satu, sedangkan yang lainnya memberikan umpan balik dan masukan atas apa yang dilakukan oleh teman sebelumnya.
            Dalam hal ini, konselor juga ikut memberikan masukan dan pendapat atas praktik yang dilakukan oleh siswa. Setelah seluruh siswa memahami betul apa yang harus ia lakukan, konselor meminta siswa untuk memberikan kesannya selama mengikuti proses konseling.
Sebelum proses konseling di akhiri, konselor meminta kesediaan siswa untuk terus mencoba dan mempraktikkan apa yang telah ia dapat, dimana pun, termasuk dikelas. Konselor meminta maaf apabila ada kesalahan atau kekurangan dilanjutkan dengan ucapan terima kasih atas partisipasi siswa selama proses konseling.

BAB III
SIMPULAN


1.      Strategi modeling adalah suatu strategi dalam konseling yang menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan.
2.      Macam-macam modeling menurut Corey (1999):
a.       Model yang nyata (live model),
b.      Model simbolik (symbolic model)
c.       Model ganda (multiple model)
3.      Dalam modeling simbolis, model disajikan melalui bahan-bahan tertulis, audio, video, film atau slide. Modeling simbolis dapat disusun untuk klien secara individu, juga dapat distandardisasikan untuk kelompok klien.
4.      Unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam mengembangkan startegi modeling simbolis:
1)      Karakteristik klien (pengguna model)
2)      Perilaku tujuan yang akan dimodelkan
3)      Media
4)      Isi tampilan atau presentasi
5)      Uji coba
5.      Media ini merupakan landasan pembentukan pengertian dengan tujuan mempengaruhi penerima pesan untuk bertindak sesuai dengan tujuan dari komunikasi tersebut.
6.      Lima hal yang harus termuat dalam naskah yang menggambarkan isi tampilan atau presentasi modeling:
a.       Instruksi                                             d.  Umpan Balik
b.      Modeling                                           e.   Ringkasang
c.       Praktik
7.       Langkah dalam modeling simbolis, yaitu:
1)      Rasionel                                             4)   Pekerjaan Rumah
2)      Memberi Contoh                               5)   Evaluasi
3)      Praktek/ Latihan